Setelah melewati perjalanan cukup panjang, Blythed akhirnya tuntas merampungkan materi mini albumnya (EP) bertajuk "Traitors".

Setelah melalui perjalanan panjang penuh liku, Blythed akhirnya merampungkan mini album (EP) perdana mereka bertajuk Traitors. Dirilis secara independen pada 22 Februari 2025, Traitors bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan simbol ketangguhan dan transformasi band asal Indonesia ini. Proses kreatifnya diwarnai dinamika internal, termasuk hengkangnya vokalis pertama, Mughni Aulia “Aul”, yang sempat membuat Blythed mempertimbangkan untuk bubar. Namun, takdir membawa angin segar dengan bergabungnya Fajar (vokal) dan Chandra (bass), yang menjadi fondasi baru bagi kelahiran kembali Blythed.

Keberangkatan Aul di tengah pengerjaan demo sempat meninggalkan kekosongan. Namun, Blythed memilih bangkit. Dengan formasi baru—Fajar (vokal), Taufik (gitar), Agitsna (gitar), Chandra (bass), dan Iqbal (drum)—mereka menyuntikkan energi segar ke dalam Traitors. Fajar membawa warna vokal yang lebih dinamis, sementara Chandra memperkuat lini bas dengan groove yang solid. Kolaborasi ini tidak hanya menyelamatkan proyek mini album, tetapi juga mengarahkan Blythed pada identitas musikal yang lebih matang.

Traitors terdiri dari empat lagu: TraitorsRagnarokParasit, dan Lingkaran Setan. Judul album diambil dari lagu pembuka, Traitors, yang sengaja dipilih sebagai pintu masuk pendengar karena sifatnya yang easy listening dibandingkan tiga lagu lainnya. Namun, jangan terkecoh—setiap track menawarkan kedalaman berbeda.

Secara musikal, Blythed mengadopsi pengaruh dari Lamb of God, Trivium, At the Gates, hingga band lokal seperti Burgerkill dan Deadsquad. Gitar riff yang agresif, ritme dinamis, dan vokal yang penuh amarah menjadi ciri khas mereka. Namun, Blythed masih dalam fase pencarian pakem—sebuah identitas unik yang akan menjadi trademark mereka di masa depan.

Mini album ini adalah bukti bahwa karya berkualitas bisa tercipta dengan sumber daya terbatas. Blythed merekam sebagian besar materi di kamar Taufik Suandi (gitaris), yang juga berperan sebagai produser. Hanya rekaman drum dan vokal yang dilakukan di Okta Studio untuk memastikan kualitas optimal.

Dean Muliawan, yang bertugas sebagai mixing engineer, berhasil mengolah rekaman mentah menjadi produk akhir yang powerful. Sementara itu, ilustrasi sampul album yang apik dikerjakan oleh Komarasani, menambah dimensi visual yang selaras dengan nuansa gelap Traitors

Traitors bukan sekadar rilis musik—ia adalah pernyataan eksistensi. Blythed menyadari bahwa mini album ini adalah modal awal untuk menjajal dunia underground Indonesia yang kompetitif. Dengan energi baru dan material yang kuat, mereka siap menghadapi tantangan, mulai dari panggung kecil hingga festival metal nasional.

Blythed masih dalam fase eksperimen, tetapi Traitors telah memberi gambaran arah mereka ke depan. Jika konsistensi dan kreativitas terus dijaga, bukan tidak mungkin nama Blythed akan semakin dikenal di kancah metalcore/death metal Indonesia.

Bagi penggemar musik berat yang haus akan karya lokal berbobot, Traitors layak masuk dalam playlist. Blythed mungkin belum sempurna, tetapi semangat dan integritas mereka patut diapresiasi. Siap mendengar teriakan mereka di panggung berikutnya?

Post Views: 56