Ada sesuatu yang magis terjadi ketika musik tidak lahir dari deretan konseptualisasi pada umunya, tapi dari celah-celah gang sempit di Depok. OLSAM, enam orang lelaki yang menyebut diri mereka “Dewan Majelis Adat”, telah merajut sembilan lagu dalam Irama Dari Gang—sebuah album yang lebih dari sekadar kumpulan lagu, melainkan semacam manifesto budaya dari pinggiran.
Mereka mulai bermain musik sejak 1438 Hijriah (2016 Masehi) di sebuah gang di Cagaralam, Depok—lokasi yang kelak menjadi roh seluruh karya mereka. Debut lewat lakon Pemuda Dalam Gang bukan sekadar pertunjukan, tapi semacam upacara penobatan: gang bukan lagi tempat sampah atau jalur alternatif macet, tapi ruang budaya yang hidup.
Album ini dirilis tepat sewindu perjalanan mereka, dan setiap lagunya seperti fragmen memoar kolektif warga yang jarang terdengar. Judul Irama Dari Gang sendiri adalah pernyataan : musik tak harus lahir dari pusat kota.
Formasi OLSAM lengkap: gitar, bass, keyboard, suling, gendang, tamborin. Aransemen mereka mengingatkan pada orkes Melayu atau Gambang Kromong yang dipadu dengan rock akustik alami. Denis Begeng (Mr. Tamborin) dan Kaelani Kiki (suling & gendang) memberi warna tradisi, sementara Zam (vokal) dan Fajar Hidayat (gitar) membawa energi musik jalanan.
Yang mencolok adalah lirik-lirik mereka: bukan puisi cinta abstrak, tapi laporan warga. Bahasa sehari-hari (“jangan nyari perkara, mending kita ngaji”), guyonan (“kegiatan paling enak ya makan”), sampai seruan lingkungan (“Jaga Ciliwung!”)—semua diracik tanpa pretensi.
Kedabyagan menjadi Pembuka album ini, dan di sambung dengan Saling Sapa Lagu sederhana dengan pesan dalam: di era individualistik, OLSAM mengingatkan bahwa segalanya dimulai dari “saling sapa”. Aransemennya magis, dengan suling Kaelani yang menyentuh. Di susul Depok Ini mungkin lagu pertama di Indonesia yang menjadikan Depok sebagai subjek utama. Bukan lagu pujian, tapi kritik halus: “Nusantara lempengan Beji, jangan cari perkara mending ngaji”— ada Jaga & Rawat Ciliwung Kita jadi Lagu paling emosional. Ciliwung bukan sekadar sungai, tapi tempat kenangan mandi dan main air. Di tengah nada nostalgik, ada amarah tersembunyi tentang sungai yang jadi keranjang sampah. Kegiatan Paling Enak Satir tajam tapi lucu: “Gawean boleh kagak ada, tapi lapar gak boleh ada.” Ini lagu protes kelas pekerja yang dibungkus guyonan. Iramanya seperti lagu dangdut koplo, cocok buat mangkal di warung tegal. Dan Pemuda Dalam Gang menjadi sampul album ini. Lagu yang cukup dekat dengan keseharian dan lagu pertama redaksi kami putar, di lanjut Balada Pemuda Lagu dengan pesan serius: “Masa muda jangan dibuang.” Tapi OLSAM tidak menggurui—mereka menyampaikannya dengan nada becanda, seperti obrolan di warung kopi. masi ada Romansa Ujung Gang dan GRK sebagai single penutup.
Irama Dari Gang layak diapresiasi bukan karena teknikalnya, tapi karena rohnya. Ini album yang jujur, blak-blakan, dan penuh cinta pada akar rumput. sebuah dokumen budaya urban yang akan makin berarti 20 tahun lagi. “Kami tidak main musik, kami menghidupkan gang.”
– Zam, OLSAM
OLSAM mengingatkan kita bahwa musik terbaik sering lahir dari tempat tak terduga. Irama Dari Gang adalah suara mereka yang tak punya panggung—tapi justru karena itulah, karyanya abadi.